**SELAMAT DATANG DI WEBSITE YKPD GBKP ALPHA OMEGA KABANJAHE **

Sejarah Berdirinya Alpha Omega

Pelayanan (Diakonia) adalah salah satu diantara tiga tugas panggilan gereja (Marturia, Koinonia dan Diakonia). Diakonia adalah salah satu bentuk pelayanan nyata dalam menampakkan Kasih Allah kepada dunia ini ( band Lukas 4 : 16-30 ). Kasih Allah ini harus disalurkan oleh gereja kepada seluruh ciptaanNya terlebih kepada manusia umumnya dan khususnya kepada anggota jemaat yang mengalami penderitaan hidup baik fisik, mental maupun keadaan sosial dan spiritualnya. Pelayanan nyata ini bertujuan untuk meringankan/membebaskan yang bersangkutan dari penderitaannya tersebut  bahkan diharapkan bisa menjadi pelayan yang berkualitas pada gilirannya.

Salah satu pelayanan yang ada dibawah Bidang Diakonia ini adalah Yayasan Kesejahteraan Penyandang Cacat (YKPC) GBKP Alpha Omega. YKPC GBKP Alpha Omega ini  berada di Jalan Kiras Bangun No. 1 Kabanjahe, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia.

 Gerbang Alpha Omega

Latar belakang/sejarah berdirinya YKPC GBKP Alpha Omega dimulai dari pergumulan Pdt. Salomo Sitepu, STh. (Alm) dimana  anak kedua dari pendeta ini yang bernama Ruth Br Sitepu mengalami keterbelakangan mental. Pada Sidang Sinode GBKP tahun 1984 di Cibubur Jakarta, dia terpilih menjadi Sekretaris Bidang II Pembangunan dan Pengembangan GBKP Periode 1984–1989. Jabatan ini mengharuskan dia tinggal di Kabanjahe (sekitar kantor pusat/sinode GBKP). Setelah tinggal menetap di Kabanjahe pergumulan pendeta dan keluarga sangat terasa didalam pengasuhan dan pendidikan Ruth Br Sitepu. Pergumulan  tersebut sering dibicarakannya kepada Moderamen GBKP dan rekan – rekan pendeta.

Jalan keluar yang diberikan teman sekerja kepada Pdt. Salomo Sitepu, S.Th yakni supaya Ruth Br Sitepu dibawa ke Panti Karya Hepata di Laguboti. Panti Karya Hepata adalah suatu tempat pemeliharaan dan pendidikan bagi orang–orang cacat yang dikelola oleh Diakonia Charitas HKBP. Setelah Ruth Br Sitepu dibawa ke Panti Karya Hepata, ternyata pada Panti Karya Hepata tersebut ada beberapa orang dari Kabupaten Karo. Dari pergumulan tersebut muncul suatu pertanyaan apakah GBKP juga tidak memungkinkan membuka pelayanan (Panti Penyandang Cacat), sementara GBKP sudah membuka panti asuhan untuk yatim piatu?. Pergumulan ini terus diangkatkan oleh Pdt. Salomo Sitepu, S.Th pada sidang – sidang Moderamen GBKP.

Rekan – rekannya sekerja di Moderamen GBKP menyatakan itu penting, tetapi masih ada prioritas yang lebih penting yang sudah menjadi program GBKP, lagi pula mungkin penyandang cacat di Kabupaten Karo tidak  begitu banyak. Walaupun ada, belum saatnya mendirikan panti penyandang cacat, tetapi Pdt.DR.  A. Ginting Suka, S.Th (ketika itu sebagai Ketua Umum Moderamen GBKP) mengingatkan pesan Sidang Raya Dewan Gereja sedunia tahun 1983 di Vancouver Canada. Pada sidang raya ini secara mendalam telah dibicarakan tentang korban–korban kemanusiaan yang terjadi ditengah–tengah dunia ini. Korban–korban kemanusiaan tersebut antara lain : Korban test nuklir di Kepulauan Pasifik, korban  akibat kurang pemeliharaan ibu sewaktu mengandung dan pemeliharaan balita yang mengakibatkan banyak anak–anak mengalami cacat tubuh dan mental. Keputusan pada waktu itu adalah:kepada setiap insan manusia diberikan pelayanan yang baik, oleh karena setiap insan walau bagaimanapun keadaan tubuh dan jiwanya adalah anak – anak Tuhan yang diciptakan berdasarkan Gambar Allah. Berdasarkan itu mereka berhak mendapatkan pemeliharaan didalam dunia ini. Dewan Gereja Sedunia menganjurkan agar gereja–gereja menangani masalah–masalah kemanusiaan.

Gagasan dan pergumulan tersebut diatas kemudian dibicarakan oleh Moderamen GBKP dengan Dewan Pekabaran Injil NHK Belanda yang pada waktu itu diketuai oleh Pastor Yacob Slobb. Gagasan ini benar – benar mendapat sambutan dari Dewan Pekabaran Injil NHK tersebut dan menambahkan bahwa pelayanan gereja harus seimbang diantara pelayanan pembangunan dengan pelayanan pengasihan Kharitatis. Jadi jika GBKP telah melihat kemungkinan membuka pelayanan terhadap penyandang cacat, Dewan Pekabaran Injil NHK bersedia mencari dana pembangunan rumah (panti perawatan dan pendidikan).

Setelah Dewan Pekabaran Injil NHK menyatakan kesediaan mendukung pelayanan terhadap penyandang cacat, kebetulan pada tahun 1987 Pastor Jacob Slobb berkunjung ke GBKP. Pada pertemuan tersebut Pastor Jacob Slobb meminta agar rencana ini dibicarakan dengan satu majelis gereja (satu runggun) saja. Mengapa dengan satu  runggun ?, sementara pemikiran GBKP hal–hal bersifat keseluruhan GBKP, harus ditangani oleh Moderamen GBKP. Walaupun ada perbedaan pemikiran tersebut, pembicaraan tersebut sangat meyakinkan Pastor Jacob Slobb tentang kesungguhan  membuka pelayanan kepada penyandang cacat.

Kemudian setelah mendapat dukungan dana pembangunan rumah (pemeliharaan dan pendidikan) ada masalah lain, yakni siapa yang membangun dan yang menangani pendirian yayasan penyandang cacat ini. Akhirnya Moderamen GBKP melakukan pembicaraan dengan Parpem GBKP dalam hal ini Pdt. Borong Tarigan, S.Th dan Pdt. Selamat Barus, S.Th  untuk membangun gedung tersebut dengan swakelola dan Pdt. Salomo Sitepu, S.Th bertugas menjajaki anak–anak cacat di Kabupaten Karo. Dari laporan pendataan penyandang cacat sebahagian besar yang dilaporkannya adalah cacat mental dan bisu tuli. Moderamen GBKP dengan melihat data tersebut memutuskan membuka pelayanan untuk cacat mental dan bisu tuli. Kemudian didirikanlah Yayasan ini dengan Akte Notaris sebagai pendiri Pdt. DR. A. Ginting Suka, S.Th,(Ketua Umum), Pdt. E.P.Ginting, S.Th (Sekum)  dan Pdt. Salomo Sitepu, S.Th (Sekretaris Bidang II Pengembangan GBKP), pada tanggal 21 Juli 1988.

Setelah Yayasan ini berdiri ada 2 masalah (kesulitan) yang dihadapi yakni : pengadaan guru dan biaya operasional. Dewan Pekabaran Injil  NHK tidak bersedia membantu biaya operasional karena sudah ada pernyataan kesanggupan GBKP, kecuali jika ada satu Diakoni Gereja Belanda yang bersedia menjadi mitra kerja yayasan. Dalam mengatasi masalah ini dibuat strategi kerja yakni : Pdt. Salomo Sitepu, STh selanjutnya ditugasi mencari guru – guru untuk sekolah luar biasa dan Pdt. DR. A.Ginting Suka, S.Th mencari dukungan dana dari gereja – gereja Jerman dan Belanda. Gereja Swiffterbant Belanda ketika dihubungkan oleh Dewan Pekabaran Injil NHK memberikan respon positif dan segera melakukan bazar. Gereja Jerman yang tergabung dalam VEM dimintakan agar mencari dan memberikan tenaga guru penyandang cacat untuk bekerja di yayasan ini. Almuth Grothaus anak dari Pdt. Wagner Grothaus ( yang pernah melayani di GBKP ) baru tamat dalam bidang pendidikan anak cacat. Setelah dilakukan pembicaraan tentang kesediaan Almuth dan persetujuan orang tuanya, hal ini diajukan kepada VEM Pdt. Peter Demberger (Sekretaris VEM) untuk Asia sangat mendukung dan menyetujui rencana ini. 

                                                                         

 Peletakan batu Pertama Gedung Alpha Omega dan Pdt. Salomo Sitepu pada perayaan Natal

dan Tahun  2018 Peletakan Batu Pertama di Asrama Juma Lingga dengan 10 Klasis Medan Sekitar

Dalam perkembangan selanjutnya yayasan ini secara terus menerus mencari dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Jika ada tamu GBKP baik dari Jerman dan Belanda dibawa berkunjung ke Alpha Omega dan dipaparkan tentang kebutuhan dan rencana kedepan. Kepada VEM Jerman dimohonkan untuk mengirimkan tenaga volunter dalam bidang pendidikan, pengasuhan dan keterampilan. Ditengah–tengah Jemaat GBKP juga secara terus menerus disosialisasikan (dijemaatkan). Pola pelayanan yayasan ini dilakukan pertama–tama dengan mengikutsertakan semua orangtua yang ada anaknya didalam, merupakan keluarga besar yayasan. Kedua, pelayanan terhadap penyandang cacat tidak hanya terbatas didalam panti asuhan dan pendidikan tetapi juga mencari anak – anak penyandang cacat yang ada di desa–desa agar mendapat perhatian dan kasih sayang. Dalam hal ini khususnya memberikan pengarahan (penggembalaan) kepada orangtua dan keluarga bahwa kecacatan bukanlah kutukan dari Allah, tapi merupakan tanggungjawab yang diberikan Allah kepada orang tua dan keluarga. Kepada anggota jemaat GBKP sesuai dengan Firman Tuhan agar mengambil bagian dalam berbagai beban dengan orangtua  dan keluarga yang melahirkan si penyandang cacat. Dengan sikap ini beban yang ditanggung orang tua dan keluarga dapat semakin ringan dan melalui sikap ini nyata persekutuan yang teguh yang berwujud didalam perbuatan kasih.

                                                

 Gedung Asrama Alpha Omega dan Juma Lingga

Pada tahun 2017 Yayasan Kesejahteraan Penyandang Cacat (YKPC) GBKP Alpha Omega diganti nama menjadi Yayasan Kesejahteraan Penyandang Disabilitas (YKPD) Alpha Omega