**SELAMAT DATANG DI WEBSITE YKPD GBKP ALPHA OMEGA KABANJAHE **

Visi dan Misi Alpha Omega

Kita sudah terbiasa hidup dengan dunia yang kita sebut dunia normal, aktivitas normal, menjumpai orang-orang yang normal setiap hari. Jika ada sesuatu yang berbeda dengan sesuatu yang lazim dalam masyarakat, kita menyebut mereka aneh, kontroversial, abnormal, tidak sehat, cacat dan sebagainya. Kita memiliki sederet nama dan argumentasi bahwa mereka yang tidak normal itu lucu, aneh, berbahaya, patut ditertawakan, “bisa dimanfaatkan” dan sebagainya. Bahkan sebagian orang memiliki stigma terhadap mereka yang berbeda dengan orang “normal” sebagai kutukan, buah dosa dan lain sebagainya. Mereka yang menerima stigma mengalami banyak diskriminasi yang mengurangi peluang hidupnya secara efektif. Orang-orang atau masyarakat yang membangun stigma terhadap pribadi lainnya menyusun sebuah teori stigma, ideologi yang menjelaskan inferitas serta membuktikan betapa berbahayanya pribadi tersebut. Mereka yang distigma dilecehkan, menjadi objek kebencian, dianggap sebagai sumber kesalahan, bahkan mengundang fobia tertentu. Menyentuh mereka yang distigma dianggap menodai kemurnian. Suara mereka tidak hanya diabaikan, tetapi juga dipandang mengancam keutuhan kolektif.Oleh karena itu, tidak heran jika akhirnya di masyarakat kita, mereka yang tidak normal (khususnya cacat) akhirnya menjadi sasaran kebencian, diperalat untuk kepentingan tertentu. Lihat saja, betapa banyak anak-anak tuna grahita (cacat mental) yang dipasung, menjadi korban pelecehan seksual dan perkosaan. Jika kita mengetik kata kunci “ anak cacat mental diperkosa “ di google, hasil yang muncul ada puluhan bahkan ratusan kasus terutama yang menimpa perempuan tuna grahita. Para perempuan tuna grahita ini menyandang beban ganda. Pertama, karena kondisi cacat mental yang disandangnya dan kedua karena mereka kaum perempuan. Kedua hal ini akhirnya membuat mereka dipersepsikan sebagai kelompok lemah dan bisa diperdaya.

Setiap orang tua pasti ingin dikaruniai anak yang normal. Bahkan setiap orang tua  ingin memiliki anak yang pintar (memiliki IQ yang tinggi), berbakat dan sukses. Akan tetapi yang terjadi adalah tidak semua keluarga dikaruniai anak yang normal, namun ada juga anak-anak yang lahir dengan memiliki kekurangan yang biasa kita sebut cacat. Kecacatan tersebut ada berbagai macam; ada yang tidak sempurna secara fisik, ada yang memiliki gangguan mental, autis, ada juga yang sangat hiperaktif dalam perkembangan, dan bahkan ada juga anak yang cacat ganda. Anak-anak seperti ini sering diklasifikasikan sebagai anak-anak berkebutuhan khusus.

Untuk menangani dan mengasuh anak yang memiliki kecacatan, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan ekstra. Sehingga ketika Tuhan menganugrahkan seorang anak yang berkebutuhan khusus di suatu keluarga ada berbagai respon keluarga. Ada keluarga yang bisa berbesar hati untuk menerima kehadiran anak tersebut dengan membesarkan dan mendidiknya sendiri. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga keluarga yang tidak dapat menerima kehadiran anak tersebut, sehingga anak tersebut dikurung di dalam rumah atau dibuang. Banyak keluarga yang terpukul menghadapinya. Bahkan tidak jarang orang tua saling menyalahkan atas keberadaan anaknya yang terlahir cacat mengingat salah satu faktor penyebab keterbelakangan mental adalah keturunan.

Ada berbagai macam alasan yang mengakibatkan orang tua tidak dapat menerima seorang anak yang berkebutuhan khusus di keluarganya, antara lain:

- Merasakan hal itu sebagai aib. Masyarakat pada umumnya juga tidak dapat menerima anak yang memiliki kecacatan di lingkungannya

- Merasa bahwa anak tersebut tidak dapat melakukan apa-apa dan hanya akan menjadi beban keluarga. Kebanyakan orang merasa tidak penting untuk membahas bagaimana cara untuk mengembangkan anak cacat karena toh tidak ada lagi yang bisa dikembangkan dari mereka dengan kemampuannya yang terbatas apalagi anak yang memiliki keterbelakangan mental yang intelektualnya sangat rendah.

- Tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga keluarga yang bisa menerima keberadaan anaknya namun kurang tahu bagaimana cara untuk merawat dan mendidik anak berkebutuhan khusus, bahkan tidak jarang orang tua tidak mengetahui ada identifikasi kelainan pada anaknya sehingga mereka pun tidak tahu harus memberikan treatment (perlakuan) apa yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anaknya agar dapat berkembang optimal.

Melihat hal tersebut diatas maka Alpha Omega telah membuat visi yaitu : Mensejahterakan Hidup Penyandang Cacat. Visi inilah yang merupakan pandangan Alpha Omega jauh kedepan. Visi adalah sebuah gambaran atau masa depan ideal atau cita-cita mulia tentang situasi masa depan.

Organisasi yang kokoh biasanya memiliki visi yang jelas dan besar baik itu yang ditulis dalam hati dan pikiran maupun yang sengaja ditulis seperti sebuah poster. Semakin jelas visi tersebut diungkapkan semakin fokus arah organisasi. Semakin mulia nilai sebuah visi semakin besar pula daya dorongnya terhadap semangat anggota organisasi. Visi yang diungkapkan secara tertulis merupakan sebuah pernyataan resmi tentang kerinduan untuk mencapai sebuah masa depan lebih baik untuk kemuliaan Tuhan.

Untuk mewujudkan visi ini, telah dibuat misi yaitu :

1. Mengasuh, mencerdaskan dan merehabilitasi serta memandirikan penyandang cacat sehingga hidup mereka lebih sejahtera dan dapat berperan aktif, berprestasi, terampil dan berdedikasi dalam pembangunan bangsa.
2. Mengubah pola pikir masyarakat yang masih negatif terhadap penyandang cacat, agar masyarakat melihat setiap manusia sebagai ciptaan yang utuh dan berharga sehingga semuanya dapat diperlakukan sama.

Misi adalah komitmen tertentu atau tugas yang spesial yang akan dilakukan demi tercapainya sebuah visi. Visi tanpa tugas melahirkan pengkhayal dan tugas tanpa visi merupakan pekerjaan yang membosankan. Visi dengan tugas melahirkan missionaris (pelaksana misi).

Strategi adalah cara yang ditempuh terus menerus demi tercapainya visi yang didambakan. Bila dengan konsisten melaksanakan strategi yang dirancang maka cepat atau lambat visi tentang masa depan akan dapat diraih. Strategi harus mampu memadukan berbagai potensi yang ada dalam organisasi.

Visi, misi dan strategi dapat dianggap berada dalam tingkat konseptual. Bagaimana caranya agar yang konseptual ini mendarat menjadi aksi atau tindakan?, yaitu dengan membuat strategi menjadi program dan program menjadi kegiatan. Untuk mewujudkan visi tersebut maka orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut harus mengubah dirinya terlebih dahulu baru visi ini bisa terwujud. Untuk melakukan perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri karena ”semua orang berpikir untuk mengubah dunia namun tak seorangpun berpikir mengubah dirinya” (Leo Tolstoi).

Untuk dapat mewujudkan visi tersebut diatas diperlukan manusia-manusia unggul yang memiliki karakter sbb : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, menghargai hikmat, optimis dan proaktif.

Di tengah-tengah masyarakat dan gereja banyak anak-anak yang mengalami ketunaan/kecacatan yang menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat  baik secara   psikologis, biaya hidup dan pendidikan. Ditengah tengah masyarakat mereka masih dipandang sebagai persoalan sosial yang sulit diterima dan menunjukkan sikap yang kurang simpati dalam memproklamirkan berita kesukaan bahwa tahun Rakhmat Tuhan telah tiba (band Lukas 4 : 18-19).

Christian Children Fund telah menyuarakan sbb :

  1. Say yes for children (katakan ya bagi anak)
  2. Leave no child out (jangan kecualikan seorang anakpun)
  3. Put the children first (nomor satukan anak)
  4. Care for every child (peduli terhadap setiap anak)
  5. Fight HIV/AIDS (perangi HIV/AIDS)
  6. Stop harming and exploiting children (hentikan tindakan salah dan eksploitasi terhadap anak)
  7. Listen to children (dengarkan suara anak)
  8. Educate every child (didik semua anak)
  9. Protect children from war (lindungi anak dari peperangan)
  10. Protect the earth for children (lindungi bumi untuk anak)
  11. Fight poverty, invest in child (perangi kemiskinan, tanam harapan pada anak)
  12. Together we build society for the best interest of children (bersatu kita membangun masyarakat bagi kepentingan terbaik anak)
  13. Let all children be joyful for a prosperous community (jadikan semua anak ceria demi masyarakat sejahtera)